Iklan

Kericuhan Suporter: Pembelajaran dari Tragedi Kanjuruhan yang Dilupakan

Muhammad Miko Prayoga
Senin, 20 November 2023, 19.42 WIB Last Updated 2023-11-21T17:24:34Z

 

Akibat kericuhan suporter, Tim PSMS tertahan di dalam stadion hingga tengah malam. (Instagram @jktnewss)

Pikiran Publik - Kisah sepak bola Indonesia kembali dihiasi dengan hal menyedihkan bahkan memalukan akibat kericuhan suporter.


Catatan negatif ini akibat kericuhan suporter yang tidak bisa menerima hasil pertandingan tim kebanggaan mereka.


Kericuhan suporter yang terjadi di stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, dan Harapan Bangsa Banda Aceh, telah menciptakan bayang-bayang memalukan atas semangat sportivitas di dunia sepak bola tanah air.


Insiden kericuhan suporter ini seolah menjadi pembuktian bahwa pelajaran dari tragedi Kanjuruhan beberapa waktu lalu sepertinya terlewatkan begitu saja.


Kejadian memalukan mencoreng suasana di luar stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, pada Minggu 19 November 2023, ketika suporter sepak bola tidak bisa menelan kekalahan Gresik United dari Deltras FC dengan skor 1-2.


Emosi meledak, protes berubah menjadi kericuhan ketika suporter berusaha mengekspresikan ketidakpuasan terhadap manajemen, khususnya pelatih Rudy Eka Priambada.


Tindakan suporter mengakibatkan bentrokan dengan polisi, yang akhirnya harus menggunakan gas air mata untuk meredakan kerumunan.


Tim Deltras FC bahkan terjebak di ruang ganti, menunggu kondisi di luar stadion menjadi aman.


Kejadian serupa juga terjadi di stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, sehari sebelumnya, ketika suporter Persiraja melempari pemain PSMS dengan botol minuman setelah pertandingan berakhir 0-0.


Kejadian tragis itu membuat kepala pemain PSMS, Rachmad Hidayat, mengalami benjolan akibat dipukul.


Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, bersama tim PSMS, bahkan tertahan di dalam stadion hingga tengah malam. Di luar stadion, bus tim PSMS juga menjadi sasaran pelemparan.


Sayangnya, kericuhan suporter ini menunjukkan kurangnya pembelajaran dari insiden serupa di Kanjuruhan.


Semua pihak diingatkan bahwa hasil pertandingan harus diterima secara sportif dan sikap dewasa.


Ketidakpuasan seharusnya disuarakan dengan cara yang beradab tanpa harus merusak suasana.


Kini, mata publik menantikan putusan Komdis PSSi terkait kericuhan setelah pertandingan Persiraja vs PSMS dan Gresik United vs Deltras FC.


Semoga insiden ini menjadi momentum untuk merenung dan mengubah pola perilaku suporter agar sepak bola Indonesia tetap meriah dengan semangat sportivitas.


 

Penulis : Cecev Handoyo

Editor : Muhammad Miko Prayoga

Komentar

Tampilkan

  • Kericuhan Suporter: Pembelajaran dari Tragedi Kanjuruhan yang Dilupakan
  • 0

Terkini

Topik Populer