Presiden Joko Widodo Tampak memegangi tangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri turun dari panggung mimbar Rakernas PDI-P 2023, Selasa (6/6/2023).(YouTube PDI-P/Screenshot)

Pikiran Publik - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah memberikan dukungan yang tak tergoyahkan kepada Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya selama bertahun-tahun. Dukungan ini telah mengalir mulai dari Jokowi menjadi Wali Kota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia untuk dua periode. Bahkan, putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, juga mendapat dukungan dari PDI-P untuk menjadi Wali Kota Solo. Menantu presiden, Bobby Nasution, juga didukung oleh partai ini untuk menjadi Wali Kota Medan. Namun, meskipun PDI-P telah memberikan dukungan sepenuh hati selama ini, partai ini merasa ditinggalkan oleh Jokowi dan keluarganya.


Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa seluruh simpatisan, anggota, dan kader partai masih merasa lelah setelah bekerja keras dalam lima pilkada dan dua pilpres yang beruntun. Dukungan ini adalah bukti cinta dan kesetiaan mereka terhadap Jokowi dan keluarganya. Namun, Jokowi dan keluarganya sepertinya telah memilih untuk berpaling dari Partai Banteng ini, yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politik mereka.


Awalnya, PDI-P memilih untuk diam mengenai perasaan mereka. Namun, setelah mendengar pendapat beberapa tokoh masyarakat dan ahli hukum tata negara, partai ini akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hasto mengungkapkan bahwa saat ini PDI-P dalam suasana sedih dan luka hati yang perih, dan mereka berserah kepada Tuhan dan rakyat Indonesia atas apa yang terjadi.


Banyak kader PDI-P percaya bahwa para pemimpin partai telah melakukan langkah yang sulit dengan berpaling dari partai yang telah memberikan dukungan besar kepada mereka. Jokowi telah diberikan dukungan oleh akar rumput dan semua simpatisan PDI-P sejak dia menjadi Wali Kota Solo, dan dia telah menjabat sebagai Kepala Negara. Namun, saat ini, banyak yang tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi.


Hasto menjelaskan bahwa selama ada isu bahwa Jokowi akan meninggalkan PDI-P, semua kader dan simpatisan berharap hal itu tidak akan terjadi. Namun, kenyataannya, Jokowi benar-benar meninggalkan partai ini. Perubahan sikap Jokowi terlihat ketika ia merestui putra sulungnya, Gibran, untuk maju sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto, meskipun sebelumnya, Jokowi dan Gibran menyatakan dukungan untuk Ganjar Pranowo yang diusung oleh PDI-P sebagai bakal calon presiden yang akan didukung.


Beberapa pihak menilai bahwa langkah Jokowi ini adalah upaya untuk melanggengkan kekuasaan dan membangun dinasti politik. Meskipun langkah tersebut telah menuai kontroversi, terutama karena hubungan Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dengan Gibran, yang akhirnya diizinkan untuk maju sebagai cawapres berdasarkan keputusan MK yang kontroversial.


Semua peristiwa ini menggambarkan kompleksitas hubungan politik dan loyalitas dalam dunia politik Indonesia, di mana faktor-faktor seperti dukungan partai, aspirasi politik pribadi, dan perubahan kebijakan dapat memengaruhi dinamika politik di negara ini.


Penulis : Muhammad Miko Prayoga